Jalan Raya Bojongsari No.55 pend.ips.fitk@apps.uinjkt.ac.id
Serba Serbi IPS

Ringkasan Buku Division of Labour in Society Karya Durkheim

Durkheim lewat karyanya The Division of Labour (1893) menjelaskan tentang bagaimana pembagian kerja berkembang sesuai dengan perubahan struktur sosial. Pembagian kerja merupakan ciri masyarakat modern. Durkheim menolak pemikiran Adam Smith tentang pembagian kerja hanya berlaku pada sektor industri, melainkan berlaku secara makro dalam organisasi sosial. Pembagian kerja menciptakan kohesi sosial sebagai dimensi sosial yang menciptakan ketergantungan. Pemikiran Adam Smith tentang Division of Labour belum dikembangkan secara sistematis dan mendalam. Untuk memahami secara objektif tentang pembagian kerja tidak cukup hanya sebuah konsep, akan tetapi menjadikannya sebagai fakta sosial dan diamati perbandingannya. Dalam buku ini setidaknya Durkheim membahas pembagian kerja dalam 3 bagian:

  1. The Function of The Division Labour (Penentuan fungsi pembagian kerja)
  2. The Causes and Conditions (Penyebab dan Ketentuan)
  3. The Abnormal Forms (Bentuk Abnormal)

Bagian 1: The Function of The Division Labour (Penentuan fungsi pembagian kerja)

Bagian dari buku ini mengibaratkan pembagian kerja dalam masyarakat seperti pembagian kerja organ dalam tubuh manusia. Seperti organ pernapasan dan pencernaan yang memiliki peran masing-masing sesuai peran. Hal paling kecil dapat dilihat dalam pembagian kerja berdasarkan seksualitas yang merupakan sumber solidaritas suami istri. Akan tetapi hal itu dapat berkembang lebih kompleks pada masyarakat luas bukan hanya sekedar meningkatkan produktivitas fungsi akan tetapi menghubungkan unsur tersebut dengan erat yang menciptakan kesadaran. Kesadaran ini berkembang sejalan dengan perkembangan masyarakat itu sendiri yang berkembang menjadi solidaritas. Hal tersebut dapat dilihat secara mekanik dan organik. Pada lingkup masyarakat sederhana, solidaritas berasal dari hal yang homogen yaitu kesamaan tugas dan pengalaman serta bersifat kolektif yang disebut solidaritas mekanik. Pada tipe solidaritas ini hukum dan aturan sangat represif karena tujuan utamanya adalah mempertahankan keseragaman dan tradisi bersama. Tipikal solidaritas ini sangat minim pembagian kerja akibat banyak terdapat kesamaan. Perkembangan masyarakat akibat modernisasi menciptakan spesialisasi dalam masyarakat yang kemudian menciptakan tipe solidaritas organik. Hal ini terjadi pada masyarakat kompleks yang memiliki heterogenitas tinggi. Pembagian kerja dalam masyarakat solidaritas tipe ini sangat beragam meskipun individu semakin terpisah secara fungsional, mereka tetap saling terhubung melalui sistem ekonomi dan sosial. Pembagian kerja ini juga harus disertai aturan seperti saraf dalam tubuh yang berfungsi untuk menjaga kestabilan, terdapat dua hukum yaitu represif dan restitutif. Hukum yang pertama dipraktikkan dalam bentuk mekanis masyarakat sebagai pusat kesadaran bersama. Sedangkan hukum kedua sesuai dengan keadaan organik masyarakat dimana hukum dipraktikkan dalam badan masyarakat khusus seperti pengadilan.

 

Bagian 2: The Causes and Conditions (Penyebab dan Ketentuan)

Faktor utama pembagian kerja secara fisik adalah terus bertambahnya populasi penduduk (dinamika penduduk), kepadatan penduduk menciptakan pembagian kerja yang lebih beragam dan meningkatnya interaksi yang mendorong munculnya spesialisasi pekerjaan. Masyarakat yang sifatnya homogen akan dihukum dengan kepunahan, hal ini diakibatkan hancurnya pola keteraturan akibat kesamaan fungsi yang mengakibatkan terganggunya keseimbangan fungsional. Sumber daya yang terbatas akan mendorong masyarakat bergerak kepada sistem pembagian kerja agar sistem berjalan secara baik dan efisien. Selain penyebab secara fisik, Durkheim mengklasifikasikan penyebab pembagian kerja secara moral. Hal ini didasari dengan masyarakat mulai menerima perbedaan dan menghargai keberagaman yang tercermin dalam nilai dan norma. Spesialisasi terjadi didukung oleh nilai dan norma yang akhirnya akan mempengaruhi solidaritas mekanik kearah organik. Meningkatnya solidaritas organik dalam masyarakat modern menimbulkan konsekuensi bagi kehidupan sosial dan moral masyarakat. Perbedaan peran dan pembagian spesialisasi fungsi meningkatkan rasa saling ketergantungan dalam masyarakat untuk memenuhi kebutuhan yang sifatnya mengikat. Selain munculnya rasa ketergantungan, individualisme meningkat akibat konsekuensi dominasi solidaritas organik. Hal tersebut muncul akibat hilangnya keseragaman dan tidak ada lagi hukum yang mengikat mereka untuk melakukan hal kolektif. Hukum beralih pada lembaga yang sifatnya restitutif yang berfungsi memulihkan hubungan yang terganggu, masyarakat fokus memainkan peran individu. Akibat dari meningkatnya individualisme menimbulkan risiko munculnya anomie, masyarakat yang kompleks menyebabkan individu dapat terpisah dari nilai dan norma yang mengakibatkan masyarakat terasing dan rasa hilang arah. Masyarakat akan cenderung selalu dihadapkan pada adaptasi nilai dan norma baru, kesadaran kolektif terlihat samar dan jika tidak diimbangi keseimbangan antara kebebasan individu dalam peran dengan aturan maka kohesi sosial menjadi terancam.

Bagian 3: The Abnormal Forms (Bentuk Abnormal)

Pembagian kerja dalam masyarakat dapat menyebabkan bentuk abnormal, hal ini dapat menimbulkan gangguan bagi keseimbangan dan memunculkan masalah sosial. Sebagai fakta sosial, pembagian kerja bukan hanya sebagai fenomena normal. Layaknya sebuah tubuh, terkadang terdapat patologi yang harus dianalisis karena menganggu keseimbangan. Pada bentuk yang normal, pembagian kerja dapat menimbulkan solidaritas sosial. Akan tetapi pada bentuk yang tidak normal akan menghasilkan fenomena berbeda dan dapat menimbulkan perlawanan. Hal tersebut menciptakan solidaritas yang tidak sehat. Setidaknya dapat dikelompokkan menjadi 3 kategori yaitu, pembagian kerja anomik, pembagian kerja secara paksa, dan bentuk abnormal lain.

Pembagian Kerja Anomik

Pembagian kerja ini terjadi akibat aturan yang mengatur pembagian peran dalam masyarakat tidak berfungsi. Hal ini terjadi tidak jelasnya norma yang mengatur perilaku yang dipahami oleh individu dalam masyarakat. Spesialisasi tidak dapat bekerja dengan normal dan individu tidak dapat menyesuaikan diri. Hal ini terjadi pada situasi perubahan yang cepat, seperti contohnya kebangkrutan, perubahan teknologi, dan revolusi. Dampak dari pembagian kerja yang anomik menghasilkan hasil yang kurang baik bagi masyarakat dan menganggu keseimbangan, yaitu keterasingan individu, konflik, dan disintegrasi sosial.

Pembagian Kerja Secara Paksa

Untuk tipe pembagian kerja abnormal ini, aturan yang jelas saja tidak cukup sebagai tolak ukur. Terkadang aturan menjadi sumber patologis dalam pembagian kerja. Individu dipaksa untuk megambil peran yang tidak sesuai dengan kemampuan mereka. Hal ini terjadi pada struktur sosial masyarakat yang tidak adil dan kaku. Mereka terpaksa mengambil peran yang tidak diinginkan karena terbatas oleh aturan yang mencegah mobilitas sosial. Kelompok kuat memaksa peran tertentu untuk kelompok yang lemah. Hal tersebut menimbulkan dua kelompok yang berbeda secara stratifikasi dan penguasaan ekonomi yang dapat menimbukan konflik serta tidak kepuasan.

Bentuk Abnormal lain

Selain anomie dan pembagian kerja paksa, terdapat bentuk abnormal lain. Hal ini terjadi ketika bentuk spesialisasi tidak sejalan dengan tujuan solidaritas. Hal ini dapat muncul jika pembagian kerja tidak terkoordinasi dengan baik. Pembagian kerja terjadi pada bentuk abnormal ini, akan tetapi hubungan tidak terjalin harmonis menciptakan fungsi dalam masyarakat yang berjalan terpisah atu terfragmentasi. Bentuk lainnya yang muncul adalah ketidakadilan dalam distribusi sehingga individu merasa frustasi terjebak dalam peran yang tidak mencerminkan potensi mereka, hal ini dapat mengarah pada bentuk pembagian kerja secara paksa. Kesenjangan dapat terjadi dalam bentuk abnormal lain, anggapan pekerjaan lain kurang bernilai dan ketidakjelasan hubungan membuat hubungan ketergantungan spesialisasi peran berbeda yang seharusnya muncul pada solidaritas organik menjadi rusak dan menciptakan ketengangan sehingga kohesi sosial tidak terbentuk dan melemahkan solidaritas.

Oleh: Farkhan Abdurochim Alfarauq