Pemikiran awal tentang mobilisasi gerakan sosial banyak dipengaruhi oleh tokoh-tokoh besar seperti Karl Marx, Émile Durkheim, Max Weber, Du Bois, dan Charlotte Perkins Gilman. Mereka meletakkan fondasi dengan mengamati perubahan besar dalam masyarakat seperti perkembangan kapitalisme, diferensiasi institusional, serta dinamika kelas dan ras yang dianggap sebagai pemicu utama aksi kolektif. Seiring waktu, teori-teori gerakan sosial berkembang melalui tiga tradisi besar:
Teori Klasik (Classic Theory)
Fokus pada ketegangan atau keretakan sosial yang menyebabkan tekanan psikologis dan akhirnya memicu gerakan sosial. Variasi dari teori ini termasuk teori masyarakat massa, ketidakkonsistenan status, perilaku kolektif, dan deprivasi relatif. Media populer sering kali menggambarkan gerakan sosial dari perspektif ini, dengan menstigma mereka sebagai tindakan irasional. Gerakan sosial dipandang sebagai reaksi emosional terhadap ketidakstabilan atau krisis sosial. Aktor dalam gerakan digambarkan sebagai individu yang mengalami ketidakpastian, alienasi, atau disorientasi akibat perubahan sosial yang cepat. Gerakan sosial bukan dipandang sebagai sesuatu yang rasional, tetapi sebagai gejala disfungsi sosial — seolah-olah gerakan adalah bentuk “gangguan” yang perlu “diatasi” oleh sistem. Beberapa teori klasik dalam gerakan sosial:
1. Teori Masyarakat Massa (Mass Society Theory)
2. Teori Ketidakonsistenan Status (Status Inconsistency Theory)
3. Teori Perilaku Kolektif (Collective Behavior Theory)
4. Teori Deprivasi Relatif (Relative Deprivation Theory)
Teori Mobilisasi Sumber Daya (Resource Mobilization Theory)
Berkembang pada tahun 1970-an, teori ini melihat gerakan sosial sebagai aktor rasional. Mobilisasi dianggap bergantung pada ketersediaan sumber daya dan infrastruktur organisasi, bukan semata-mata respons emosional. Asumsi dalam teori ini adalah gerakan sosial membutuhkan sumber daya untuk terbentuk, bertahan, dan sukses. Aktor dalam gerakan sosial adalah agen rasional yang menghitung biaya dan manfaat sebelum bertindak. Keberhasilan gerakan sangat bergantung pada kemampuan membangun organisasi dan jaringan yang solid. Gerakan sering kali dipimpin oleh movement leader atau orang-orang yang pandai mengumpulkan dan mengelola sumber daya. Framing masalah digunakan dalam teori ini mencakup, Diagnostic framing (apa masalahnya?), Prognostic framing (bagaimana solusi?), Motivational framing (mengapa harus bertindak sekarang?). Gerakan sosial dalam teori sering kali memperkuat dirinya dengan menjalin kerjasama dengan kelompok lain yang memiliki sumber daya serupa. Contoh pendukung teori diatas:
- Gerakan Hak Sipil di Amerika
- Serikat (1950–1960-an)
- Gerakan Anti-Perang Vietnam (1960–1970-an)
- Gerakan Feminisme Gelombang Kedua (1960–1980-an)
Teori Proses Politik (Political Process Theory/PPT)
Berkembang pada akhir 1970-an hingga 1980-an, dan merupakan kelanjutan serta perluasan dari Resource Mobilization Theory. Teori ini menyoroti pentingnya lingkungan politik dan ekonomi. PPT mengintegrasikan konsep sumber daya dan framing budaya dalam analisanya, memandang peluang politik (good news) dan ancaman (bad news) sebagai faktor pendorong mobilisasi. PPT menekankan bahwa gerakan sosial sangat dipengaruhi oleh kondisi politik dan ekonomi eksternal. Jadi, mobilisasi kolektif bukan hanya soal organisasi internal, tetapi juga kapan dan bagaimana peluang politik tercipta. Fokus utama teori ini adalah Lingkungan eksternal lebih menentukan daripada sekadar kemauan internal aktor sosial. Keberhasilan gerakan sosial bergantung pada adanya peluang politik (political opportunities). Gerakan sosial dianggap sebagai aktor rasional yang memanfaatkan situasi untuk bertindak. Secara lebih rinci analisa peluang dan ancaman ialah:
Good News Model: Mobilisasi terjadi ketika ada peluang politik atau sosial yang menguntungkan. dalam konteks gerakan sosial merujuk pada pendekatan yang menekankan bahwa perubahan sosial terjadi ketika munculnya peluang yang menguntungkan bagi mobilisasi kolektif. Peluang-peluang ini dapat berupa perubahan politik, sosial, atau ekonomi yang memberikan ruang bagi individu atau kelompok untuk berpartisipasi dalam aksi sosial. Model ini biasanya berfokus pada bagaimana gerakan sosial dapat memanfaatkan situasi-situasi yang menguntungkan untuk meningkatkan partisipasi dan mencapai tujuan mereka.
Bad News Model: Mobilisasi dipicu oleh ancaman atau represi terhadap kelompok tertentu. dalam konteks gerakan sosial mengacu pada pendekatan yang menekankan bahwa penindasan, ancaman, atau kondisi negatif di lingkungan sosial atau politik dapat memicu mobilisasi kolektif. Model ini berfokus pada bagaimana situasi-situasi yang dianggap sebagai ancaman terhadap hak atau keberadaan kelompok tertentu dapat mendorong individu untuk beraksi dan berpartisipasi dalam gerakan sosial. Ancaman ini bisa berasal dari kebijakan pemerintah, diskriminasi, atau keadaan yang merugikan secara umum.
Namun dalam kenyataannya, banyak gerakan sosial beroperasi dalam lingkungan hibrida, di mana peluang dan ancaman hadir bersamaan.
Sumber: Social Movements: The Structure of Collective Mobilization” karya Paul D. Almeida
oleh: Farkhan Abdurochim Alfarauq




